Apa Itu IMD? Apa Pentingnya?
Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah proses meletakkan bayi yang baru lahir di dada atau perut ibu segera setelah persalinan, sehingga terjadi kontak kulit ke kulit dan bayi secara alami mencari puting untuk mulai menyusu dalam satu jam pertama kehidupan. IMD merupakan langkah awal yang sangat penting dalam keberhasilan pemberian ASI eksklusif.
Secara konsep, IMD bukan tentang “komposisi” seperti pada ASI, melainkan proses biologis dan perilaku alami antara ibu dan bayi. Saat IMD dilakukan, tubuh ibu akan melepaskan hormon oksitosin dan prolaktin. Oksitosin membantu kontraksi rahim sehingga mengurangi risiko perdarahan pasca persalinan, sementara prolaktin berperan dalam merangsang produksi ASI. Bagi bayi, kontak kulit ke kulit membantu menstabilkan suhu tubuh, detak jantung, dan pernapasan.
Manfaat IMD sangat luas, baik untuk bayi maupun ibu. Pada bayi, IMD membantu meningkatkan keberhasilan menyusu, memperkuat daya tahan tubuh, serta mempercepat pemberian kolostrum yang kaya antibodi. Bayi yang mendapatkan IMD juga cenderung lebih tenang, tidak mudah menangis, dan memiliki ikatan emosional yang lebih kuat dengan ibunya. Selain itu, IMD dapat menurunkan risiko kematian bayi baru lahir, terutama pada hari-hari pertama kehidupan.
Bagi ibu, IMD membantu mempercepat pengeluaran plasenta dan mengurangi risiko perdarahan. Kontak awal dengan bayi juga meningkatkan rasa percaya diri ibu dalam menyusui serta memperkuat ikatan batin (bonding). IMD juga berperan dalam meningkatkan keberhasilan ASI eksklusif hingga 6 bulan.
Cara melakukan IMD cukup sederhana namun perlu dukungan tenaga kesehatan. Setelah bayi lahir dan dipastikan dalam kondisi stabil, bayi tidak langsung dipisahkan dari ibu. Bayi dikeringkan tanpa menghilangkan vernix (lapisan putih alami di kulit bayi), kemudian diletakkan di dada ibu tanpa pakaian (hanya menggunakan popok dan penutup kepala bila perlu). Selanjutnya, bayi dibiarkan merangkak (breast crawl) untuk mencari puting ibu secara alami. Proses ini biasanya berlangsung selama 30–60 menit atau lebih, tanpa paksaan.
Agar IMD berhasil, penting untuk memastikan kondisi ibu dan bayi stabil, menghindari intervensi yang tidak perlu, serta memberikan suasana yang tenang dan nyaman. Dukungan dari tenaga kesehatan, keluarga, dan lingkungan sangat berpengaruh dalam keberhasilan IMD. Ibu juga perlu diberikan edukasi sebelumnya agar memahami proses ini dan tidak merasa cemas.
Dalam praktiknya, IMD tetap dapat dilakukan pada persalinan normal maupun operasi sesar, dengan penyesuaian kondisi medis. Selama tidak ada kontraindikasi, IMD sebaiknya menjadi standar pelayanan pada setiap persalinan.
Dengan demikian, IMD bukan hanya sekadar langkah awal menyusui, tetapi merupakan fondasi penting dalam mendukung kesehatan ibu dan bayi. Melalui IMD, bayi mendapatkan awal kehidupan yang lebih baik, sementara ibu memiliki kesempatan lebih besar untuk berhasil dalam memberikan ASI secara optimal.
Secara konsep, IMD bukan tentang “komposisi” seperti pada ASI, melainkan proses biologis dan perilaku alami antara ibu dan bayi. Saat IMD dilakukan, tubuh ibu akan melepaskan hormon oksitosin dan prolaktin. Oksitosin membantu kontraksi rahim sehingga mengurangi risiko perdarahan pasca persalinan, sementara prolaktin berperan dalam merangsang produksi ASI. Bagi bayi, kontak kulit ke kulit membantu menstabilkan suhu tubuh, detak jantung, dan pernapasan.
Manfaat IMD sangat luas, baik untuk bayi maupun ibu. Pada bayi, IMD membantu meningkatkan keberhasilan menyusu, memperkuat daya tahan tubuh, serta mempercepat pemberian kolostrum yang kaya antibodi. Bayi yang mendapatkan IMD juga cenderung lebih tenang, tidak mudah menangis, dan memiliki ikatan emosional yang lebih kuat dengan ibunya. Selain itu, IMD dapat menurunkan risiko kematian bayi baru lahir, terutama pada hari-hari pertama kehidupan.
Bagi ibu, IMD membantu mempercepat pengeluaran plasenta dan mengurangi risiko perdarahan. Kontak awal dengan bayi juga meningkatkan rasa percaya diri ibu dalam menyusui serta memperkuat ikatan batin (bonding). IMD juga berperan dalam meningkatkan keberhasilan ASI eksklusif hingga 6 bulan.
Cara melakukan IMD cukup sederhana namun perlu dukungan tenaga kesehatan. Setelah bayi lahir dan dipastikan dalam kondisi stabil, bayi tidak langsung dipisahkan dari ibu. Bayi dikeringkan tanpa menghilangkan vernix (lapisan putih alami di kulit bayi), kemudian diletakkan di dada ibu tanpa pakaian (hanya menggunakan popok dan penutup kepala bila perlu). Selanjutnya, bayi dibiarkan merangkak (breast crawl) untuk mencari puting ibu secara alami. Proses ini biasanya berlangsung selama 30–60 menit atau lebih, tanpa paksaan.
Agar IMD berhasil, penting untuk memastikan kondisi ibu dan bayi stabil, menghindari intervensi yang tidak perlu, serta memberikan suasana yang tenang dan nyaman. Dukungan dari tenaga kesehatan, keluarga, dan lingkungan sangat berpengaruh dalam keberhasilan IMD. Ibu juga perlu diberikan edukasi sebelumnya agar memahami proses ini dan tidak merasa cemas.
Dalam praktiknya, IMD tetap dapat dilakukan pada persalinan normal maupun operasi sesar, dengan penyesuaian kondisi medis. Selama tidak ada kontraindikasi, IMD sebaiknya menjadi standar pelayanan pada setiap persalinan.
Dengan demikian, IMD bukan hanya sekadar langkah awal menyusui, tetapi merupakan fondasi penting dalam mendukung kesehatan ibu dan bayi. Melalui IMD, bayi mendapatkan awal kehidupan yang lebih baik, sementara ibu memiliki kesempatan lebih besar untuk berhasil dalam memberikan ASI secara optimal.